the moderntramp

the moderntramp

#001: AGORA

kapan terakhir kali kau menyaksikan karya Alejandro Amenabar? saya terakhir kali melihatnya sedang melukis langit vanilla, ketika ia tersesat menerjemahkan Open Your Eyes dalam skrip yang tak bagus diinterpretasikan Tom Cruise. sebagai sutradara jelas jauh lebih lama, enam tahun sudah kita rindu dengan pengarahannya terhadap Javier Bardem sebagai seorang mekanik kapal yang mengalami cacat seumur hidup dalam Sea Inside.

dan akhirnya, sutradara asal Spanyol itu kembali di belakang layar dengan mengarahkan sebuah kisah epik berjudul Agora. kisah yang berlatar di Alexandria 400 tahun SM ini bercerita tentang seorang filsuf wanita bernama Hypatia yang terjebak dalam pusaran pertikaan agama dan berhala.

mungkin Hypatia (Rachel Weisz) menjadi satu-satunya wanita yang berani mengaku atheis ketika Alexandria sedang dilanda euphoria sembah berhala. gencarnya penyebaran agama Kristen yang berkembang secara gerilya dan efektif mengakibatkan sentimen anti-atheis diam-diam menjadi sebuah pergerakan yang masif.

“i believe ini philosophy,” jawabnya ketika orang-orang menertawakan imannya. Hypatia tak bergeming, yang ada di pikirannya kala itu hanya seputar dimana pusat kosmos, dan bagaimana benda-benda langit yang ada di sekeliling, mengitarinya.

ketertarikan Hypatia terhadap ilmu pengetahuan membawanya ke Yunani dan Italia untuk mempelajari filsafat, matematika, dan astronomi. ilmu-ilmu yang didapat dalam pengembaraan akademisnya tersebut diamalkan dalam pengajarannya pada sebuah sekolah Platonis milik kaum pagan di Alexandria.

dua dari sekian banyak muridnya adalah Orestes (Oscar Issac) yang terang-terangan jatuh cinta pada guru cantiknya tersebut, dan Synesius (Rupert Evans) penganut Kristen yang kelak menjadi Uskup Cyrene.

Davus (Max Minghella), budak Hypatia diam-diam menjadi murid tanpa bangku di kelas astronomi majikannya tersebut. tak hanya itu, Davus juga diam-diam mencintai Hypatia. kalau boleh dalam review ini berpendapat, siapa yang tidak?

kelak hingga Orestes menjadi gubernur Alexandria, dan berpindah keyakinan menjadi seorang Kristiani. kelak hingga Davus tak lagi seorang budak. mereka masih memendam rasa kepada Hypatia yang ‘bercerai’ dari dunia ajar-mengajar setelah sebuah tragedi antara ekstremis Pagan dan Kristen mengubah sekolahnya jadi kandang domba.

namun ada dua hal yang tak diceraikan Hypatia, yakni rasa ingin tahunya terhadap orbit dan sistem tata surya, serta tuntutannya terhadap kesetaraan antara penganut monoteis dan ateis. suaranya yang lantang di agora membuat pemimpin radikal kaum Kristen, Cyril, tak tenang. maka suara-suara yang menentang, anggap Cyril (Sami Samir), harus ditendang.

agora sendiri merupakan terminologi Yunani kuno untuk menyebut ruang publik, atau ‘forum’ dalam kosakata Romawi. dari term agora kelak muncul istilah agoraphobia yang berarti ketakutan terhadap upaya untuk menyampaikan pendapat di muka umum. tapi dalam film ini istilah tersebut bisa menjadi ambigu, karena bagi Cyril, agoraphobia juga bisa berarti ketakutan untuk mendengar pendapat orang lain di muka umum.

situasi berpihak pada Cyril, sebagai pemimpin spiritual tertinggi Alexandria ia berhak meminta Gubernur Orestes berlutut atas sumpah untuk menganggap wanita yang tak percaya Tuhan sebagai penyihir. Davus pun kini menjadi Parabaloni, militan kaum Kristen yang menjuluki diri mereka sendiri tentara Tuhan yang bertanggung jawab atas serangkaian pembantaian yang menewaskan banyak kaum Pagan dan Yahudi. sementara Synesius mencoba bersikap lebih diplomatis dengan meminta Hypatia agar memeluk Kristen bila tak ingin hal buruk menimpanya.

dan Hypatia sendiri, saat itu jauh lebih percaya pada prospek penelitian barunya. Tuhan, ia sama sekali tak peduli. dan ia dengan berani mengatakan bahwa ia tak peduli. bahkan dalam diamnya.

interpretasi saya dalam film terbaru Amenábar ini sangat sederhana, bukan pada penekanan sosok Hypatia, bukan pada pertikaian agama, bukan juga pada romantika picisan pria-pria di sekeliling Hypatia. begitu sederhana, sesederhana laki-laki yang terlihat seperti domba, dan Hypatia seekor serigala. begitu sederhana, sesederhana fanatisme yang datang keroyokan, dan idealisme berdiri kokoh di atas jenjang kaki Hypatia.

Rachel Weisz tampil gemilang dalam memancarkan radiasi intelegensi Hypatia yang terpancar menembus layar kaca. rekontruksi cantik negeri tanpa atap, Alexandria yang tanpa rekayasa juga menambah pesona. tak banyak dialog yang bisa saya ingat, kecuali besok tiba-tiba ada kelas astronomi.

keputusan yang tepat untuk menjadikan Hypatia sebagai pusat cerita (juga dengan memilih Weisz untuk memerankannya). karena seperti matahari, karakter-karakter lain termanipulasi seperti penduduk bumi pra-Heliosentris, seolah-olah orang lain yang berputar mengelilingi mereka, padahal mereka yang berputar mengelilingi Hypatia. wanita yang sinarnya seterang matahari, dan berdiri kokoh di atas pijar pikirannya.

(masih banyak yang ingin diceritakan tentang Hypatia, ketika sadar bahwa judul tulisan ini adalah review film Agora.)

#001 :filmrev :amateureviewer :re(a)drum, bandung.