the moderntramp

the moderntramp

PRINSIP KOMABOKASI

Seorang wanita mengerling pada seorang pria yang duduk di depannya, memberi ‘proses simbolik’ yang langsung dimaknai si pria sebagai ajakan pergi ke bar karena si pria tahu kalau ‘tiap perilaku punya potensi komunikasi’. Dan pergilah mereka ke bar:

Di bar, si pria tuangkan bir ke ‘dimensi isi’ gelas wanita. Wanita mengajaknya toast untuk menandakan ‘dimensi hubungan’ yang sedang mereka bangun.

‘Secara sengaja’ mereka meniatkan diri untuk menghabiskan malam di bar ini, berdua.

“You tau gak sih kalau manusia bisa mabuk dalam segala situasi, di manapun, kapanpun, dalam keadaan sedih maupun senang?” Tanya si pria.

“Tauk, ‘mabuk kan bisa terjadi dalam berbagai konteks ruang, waktu, secara sosial dan psikologis’. Eh, eik nebak ya, dalam gelas ke-7, you bakal mulai mabuk?” Tanya wanita.

“Wah, baru ketemu udah mulai ‘bikin prediksi’ aja you. Salah, gelas ke-69 baru eik mabuk, gelas kopi tapinya!” Jelas si pria.

“Wow, sakti juga you, eh tau gak sih you kalau mabuk itu punya ‘sifat sistemik yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal’. Ya lu tinggal pilih, you minum karena emang pingin mabuk, atau karena you dicekoki.” Ujar si wanita.

“Yang eik tahu sih, mabuk itu lebih enak bareng temen² deket dibanding stranger, ‘semakin mirip latar belakang sosbud seseorang, mabok makin efektif’!” Tegas si pria.

Semakin malam, semakin terserak gelas bir yang ada di meja mereka, semakin melantur pula mereka nikmati malam ini. Mereka tahu, bahwa ‘mabuk bersifat non-sekuensial, yakni tidak bisa dilakukan secara satu arah’.

Mereka juga tahu bahwa ‘mabuk bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional’, karena tak mungkin you mabuk tapi statis, dan tak menransaksikan perasaan yang you pendam. Kecuali jika you tak benar-benar ingin mabuk.

Dan kedua manusia ini pun tampak semakin mabuk, bar sudah kosong ketika mereka secara tak sadar mulai bercerita tentang masalah masing-masing yang begitu pilu. ‘Komunikasi bersifat irreversible’, ujar waiters yang mendengarkan mereka bercerita sambil membersihkan meja sebelah.

Untuk itulah mengapa si waiters merasa iba pada dua manusia yg esoknya memutuskan bertunagan itu setiap kali mengunjungi bar tersebut. Seceria apapun wajah mereka saat datang, si pelayan tahu kapan saat ia harus memanggil taksi dan memulangkan mereka. Yakni ketika sepasang manusia itu sudah mabuk berat dan berlinang air mata ceritakan masalah yang mereka punya.

Sambil menutup pintu taksi, dan memberi tahu alamat rumah pasangan itu kepada sopirnya, waiters itu berkata dalam hati, berdasarkan pengalamannya berpuluh-puluh tahun bekerja di bar itu, bahwa ‘mabuk bukanlah panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.”