the moderntramp

the moderntramp

Karolina

#02, Keluargaku terdiri dari ayah yang bernama Ulamtiba, dan ibu bernama Pucuk Dicinta. Dan gadis yang memegang kamera itu adalah, …bukan adik atau kakaku melainkan anak sopir keluargaku yg bernama Karolina, cantik ya. Matanya basah ketika kusetubuhi ia, seluruh tubuhnya basah.. Andai bapaknya tak pulang terlalu cepat dari pabrik… Mungkin di punggungku takkan tertinggal bekas setrika panas yg ditandaskan saat penisku batang tak berbekas di vagina Karolina. Tak perlu pula, aku menghantamnya dengan godam, dan membenamkannya di sumur yg kutaburi garam agar bisa kutanam hiu suatu saat di sana, biar hilang pria sialan itu dengan rangka-rangkanya. Tapi waktuku di keluarga ini tinggal beberapa saat lagi. Sebelum diusir, aku meminta maaf pada Karolina, ia malah mengucapkan terimakasih dan, “kapan lagi?”.

Tapi aku tak bisa tinggal lebih lama, apalagi harus membuat kedua orangtuaku sedih dengan menghadirkan kenyataan bahwa anaknya adalah seorang pembunuh dengan bekas luka tandas setrika di punggung. Kusamarkan realitanya saja dengan menitipkan pesan pada Karolina, “Bilang ke ayah, ibu, aku pergi diantar papamu. Bilang saja mau keliling dunia, entah kapan lagi tiba bila sudah mengelana.”

Kuambil kunci cadangan yang tergantung di kamar Karolina, mobil klasik Pontiac Tempest 1964 melesat lintasi gerbang rumah mewah yang harus kurela tinggalkan. Beserta status sebagai ahli waris pabrik resleting premium GRG, dua orang tua yang mungkin akan rindu, dan seorang kekasih yang tak dianggap aku hanya bisa…

Pingkan namanya, sudah kuduga dari dulu ia hanya mengincar hartaku saja. Carolina lebih mulia, hanya saja ia anak seorang sopir, bejat pula. Ayah ibu pasti tak suka. Yang aneh, Pingkan ini juga anak dari pengusaha jaket terkenal, kekayaan keluarganya jauh lebih besar dari aset GRG. Lalu mengapa ia mengicar hartaku? Asumsiku saja itu mungkin.

Yang pasti di jok belakang, sebuah koper yang nanti akan kau tahu apa isinya sudah terbaring rapi sambil sesekali terantuk karena aku gagal menghindari banyaknya lubang yang menganga di jalan. Ayah suka bercanda, “Di negara ini, lebih banyak lubang daripada jalannya!”

“Sindiran-sindiran politik seperti itu yang kusuka dari Tuan, Mas!” Tiba-tiba kudengar suara berat seorang lelaki di kursi penumpang depan. Mobil berdecit, kuinjak pedal rem dalam-dalam, suaranya “cekkkiiiittttt!!!” Seketika otaku cekot-cekot…

“Kenapa kau ada di sini, …Tardjo!” Bumi seakan berhenti berdetak selama beberapa detik.

“Dan kenapa kau hidup kembali!!!” Ujarku pada sopir keluargaku yang tak sampai 24jam lalu kuhantam dengan godam dan kubuang mayatnya di sumur yang ditaburi air garam.

Tardjo hanya tersenyum sambil memilin-milin kumisnya yang tebal. Nyaliku sontak menipis.