the moderntramp

the moderntramp

Dirgahayu Joean!

Dirgahayu Joean!

8 months ago

Cinegraph pertamaku! Yayy!

Cinegraph pertamaku! Yayy!

8 months ago

PRINSIP KOMABOKASI

Seorang wanita mengerling pada seorang pria yang duduk di depannya, memberi ‘proses simbolik’ yang langsung dimaknai si pria sebagai ajakan pergi ke bar karena si pria tahu kalau ‘tiap perilaku punya potensi komunikasi’. Dan pergilah mereka ke bar:

Di bar, si pria tuangkan bir ke ‘dimensi isi’ gelas wanita. Wanita mengajaknya toast untuk menandakan ‘dimensi hubungan’ yang sedang mereka bangun.

‘Secara sengaja’ mereka meniatkan diri untuk menghabiskan malam di bar ini, berdua.

“You tau gak sih kalau manusia bisa mabuk dalam segala situasi, di manapun, kapanpun, dalam keadaan sedih maupun senang?” Tanya si pria.

“Tauk, ‘mabuk kan bisa terjadi dalam berbagai konteks ruang, waktu, secara sosial dan psikologis’. Eh, eik nebak ya, dalam gelas ke-7, you bakal mulai mabuk?” Tanya wanita.

“Wah, baru ketemu udah mulai ‘bikin prediksi’ aja you. Salah, gelas ke-69 baru eik mabuk, gelas kopi tapinya!” Jelas si pria.

“Wow, sakti juga you, eh tau gak sih you kalau mabuk itu punya ‘sifat sistemik yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal’. Ya lu tinggal pilih, you minum karena emang pingin mabuk, atau karena you dicekoki.” Ujar si wanita.

“Yang eik tahu sih, mabuk itu lebih enak bareng temen² deket dibanding stranger, ‘semakin mirip latar belakang sosbud seseorang, mabok makin efektif’!” Tegas si pria.

Semakin malam, semakin terserak gelas bir yang ada di meja mereka, semakin melantur pula mereka nikmati malam ini. Mereka tahu, bahwa ‘mabuk bersifat non-sekuensial, yakni tidak bisa dilakukan secara satu arah’.

Mereka juga tahu bahwa ‘mabuk bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional’, karena tak mungkin you mabuk tapi statis, dan tak menransaksikan perasaan yang you pendam. Kecuali jika you tak benar-benar ingin mabuk.

Dan kedua manusia ini pun tampak semakin mabuk, bar sudah kosong ketika mereka secara tak sadar mulai bercerita tentang masalah masing-masing yang begitu pilu. ‘Komunikasi bersifat irreversible’, ujar waiters yang mendengarkan mereka bercerita sambil membersihkan meja sebelah.

Untuk itulah mengapa si waiters merasa iba pada dua manusia yg esoknya memutuskan bertunagan itu setiap kali mengunjungi bar tersebut. Seceria apapun wajah mereka saat datang, si pelayan tahu kapan saat ia harus memanggil taksi dan memulangkan mereka. Yakni ketika sepasang manusia itu sudah mabuk berat dan berlinang air mata ceritakan masalah yang mereka punya.

Sambil menutup pintu taksi, dan memberi tahu alamat rumah pasangan itu kepada sopirnya, waiters itu berkata dalam hati, berdasarkan pengalamannya berpuluh-puluh tahun bekerja di bar itu, bahwa ‘mabuk bukanlah panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.”

Karolina

#02, Keluargaku terdiri dari ayah yang bernama Ulamtiba, dan ibu bernama Pucuk Dicinta. Dan gadis yang memegang kamera itu adalah, …bukan adik atau kakaku melainkan anak sopir keluargaku yg bernama Karolina, cantik ya. Matanya basah ketika kusetubuhi ia, seluruh tubuhnya basah.. Andai bapaknya tak pulang terlalu cepat dari pabrik… Mungkin di punggungku takkan tertinggal bekas setrika panas yg ditandaskan saat penisku batang tak berbekas di vagina Karolina. Tak perlu pula, aku menghantamnya dengan godam, dan membenamkannya di sumur yg kutaburi garam agar bisa kutanam hiu suatu saat di sana, biar hilang pria sialan itu dengan rangka-rangkanya. Tapi waktuku di keluarga ini tinggal beberapa saat lagi. Sebelum diusir, aku meminta maaf pada Karolina, ia malah mengucapkan terimakasih dan, “kapan lagi?”.

Tapi aku tak bisa tinggal lebih lama, apalagi harus membuat kedua orangtuaku sedih dengan menghadirkan kenyataan bahwa anaknya adalah seorang pembunuh dengan bekas luka tandas setrika di punggung. Kusamarkan realitanya saja dengan menitipkan pesan pada Karolina, “Bilang ke ayah, ibu, aku pergi diantar papamu. Bilang saja mau keliling dunia, entah kapan lagi tiba bila sudah mengelana.”

Kuambil kunci cadangan yang tergantung di kamar Karolina, mobil klasik Pontiac Tempest 1964 melesat lintasi gerbang rumah mewah yang harus kurela tinggalkan. Beserta status sebagai ahli waris pabrik resleting premium GRG, dua orang tua yang mungkin akan rindu, dan seorang kekasih yang tak dianggap aku hanya bisa…

Pingkan namanya, sudah kuduga dari dulu ia hanya mengincar hartaku saja. Carolina lebih mulia, hanya saja ia anak seorang sopir, bejat pula. Ayah ibu pasti tak suka. Yang aneh, Pingkan ini juga anak dari pengusaha jaket terkenal, kekayaan keluarganya jauh lebih besar dari aset GRG. Lalu mengapa ia mengicar hartaku? Asumsiku saja itu mungkin.

Yang pasti di jok belakang, sebuah koper yang nanti akan kau tahu apa isinya sudah terbaring rapi sambil sesekali terantuk karena aku gagal menghindari banyaknya lubang yang menganga di jalan. Ayah suka bercanda, “Di negara ini, lebih banyak lubang daripada jalannya!”

“Sindiran-sindiran politik seperti itu yang kusuka dari Tuan, Mas!” Tiba-tiba kudengar suara berat seorang lelaki di kursi penumpang depan. Mobil berdecit, kuinjak pedal rem dalam-dalam, suaranya “cekkkiiiittttt!!!” Seketika otaku cekot-cekot…

“Kenapa kau ada di sini, …Tardjo!” Bumi seakan berhenti berdetak selama beberapa detik.

“Dan kenapa kau hidup kembali!!!” Ujarku pada sopir keluargaku yang tak sampai 24jam lalu kuhantam dengan godam dan kubuang mayatnya di sumur yang ditaburi air garam.

Tardjo hanya tersenyum sambil memilin-milin kumisnya yang tebal. Nyaliku sontak menipis.